Ka Udin , itulah sapaan akrab seorang dosen matematika di salah
satu PTN di Jawa Barat. Udin ialah seorang dosen yang terkenal karena beliau
mudah bergaul dengan mahasiswanya karena usianya baru menginjak 25 tahun.
Siang itu, Udin masuk ke kelas tepat pukul 13.05. “Selamat siang”
ujarnya, kepada mahasiswa.
Materi kita pada hari ini adalah................. ALJABAR MATRIKS, Dua kata itulah yang tertulis
di papan tulis. Kemudian, beliau berkata “ Belum di katakan matematikawan
sejati, jika belum mampu berkarya sastra.”
“Ka , mengapa belum disebut matematikawan sejati jika belum
berkarya sastra ?” tanya seorang mahasiswa yang ingin mengulur – ulur waktu.
Karena karya sastra merupakan tingkat intelektulitas manusia yang paling
tinggi, Udin menjawab dengan santai.
Ka Coba........!!! Berikan
contoh dan buktikan bahwa ka Udin adalah
seorang matematikawan sejati. Tanya Rian, seorang mahasiswa yang kritis.
Udin
langsung membuka tutup spidol, mendekat ke papan tulis, dan menuliskan
Ragukan dua vektor yang berpotongan membentuk landasan.
Ragukan matriks O = Nilainya Nol.
Ragukan pula matrik I = Determinanya satu.
Namun jangan Kau ragukan cintaku.
Seluruh mahasiswi berdecak kagum dengan kata – kata yang di
tuliskan oleh Ka Udin . Kata yang sederhana namun memiliki makna yang mendalam.
Sebenarnya, Udin sengaja menuliskan pusisi untuk Intan, salah satu mahasiwi di kelas
itu. Intan ialah Mahasiwi yang telah lama berada di dalam
lubuk hati Uudin yang paling dalam.
Tak terasa waktu cepat berlalu, Kulia siang itu hampir selesai.
Dalam benak Udin terlintas ucapan Albert Einstein “ Duduk satu jam bersama
orang yang dicintai terasa bagai satu menit, sedangkan duduk di atas kompor
selama lima menit terasa bagaikan satu jam. itulah relativitas.” Seperti
kuliah yang indah pada sore itu, harus berakhir.
“Udin
Udin
Udin .......BANGUN”, suara Dosen
membangunkanya. Di iringi dengan suara tawa dari teman – teman Udin.
Udin, bangun dengan salah tingkah dan sedikit merapikan wajahnya yang
kusam selepas tidur saat kuliah.
Sang Dosen yang sebenarnya, langsung memberikan pertanyaan bonus “ Buktikan
bahwa dua buah vektor bebas linier membentuk landasan ?? ” dan Udin di perintahkan untuk mengerjakan
soal di depan kelas.
Inilah kenyataan, Udin sadar bahwa dia bukanlah seorang Dosen seperti dalam
mimpinya tadi. Mimpi itu juga yang mengantarkanya pada soal bonus. kali ini
Udin bergumam dari lubuk hatinya yang paling dalam “ Aljabar matriks bukanlah
sebuah karya sastra indah tetapi sesuatu yang singkat padat dan tidak jelas,
seperti cerpen ini.”
mail......... kebanyakan belajar statistik jadi kayak begini yak... :D keep ur posting, meeeeen!!
BalasHapus